Hantu Gentayangan di Apartemen Ryan

Foto ilustrasi

Kasus pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan Very Idam Heryansyah alias Ryan terhadap Hery Santoso di Margonda Residence Blok C No. 309A Jl Margonda Raya, Depok membuat penghuni apartemen itu tidak nyaman, membuat penghuninya takut keluar di malam hari.

"Setelah kasus Ryan suasana apartemen menjadi beru-bah. Biasanya keluar malam saya tidak takut, tapi setelah kejadian itu, saya merasa takut jika keluar malam hari. Ya takut setan korban Ryan bergentayangan," ujar Sri, salah satu penghuni apartemen, Sri (40) menjawab Harian Terbit di Depok.

Penghuni lain yang tak mau disebut namanya mengemukakan, dirinya pernah melihat bayangan salah satu korban Ryan keluar dari blok yang ditempati Ryan dan korban pembunuhannya. "Waktu itu sekitar pukul 20.00 Wib, gak sengaja saya melihat baya-ngan putih-putih. Ihh... seram," kata pria ganteng itu.

Rasa takut tinggal di apartemen juga dialami Loly (26). "Setelah kejadian itu ia merasa takut jika hari sudah mulai menjelang malam. Aduhh..! kalo udah mlam rasanya takut, apalagi jika mau keluar malam pasti minta ditemenin sama mama," ujar Loly.

Menurut Sri, para penghuni yang berada satu blok dengan tempat tinggal Ryan banyak yang memilih keluar atau pindah dari apartemen, tapi ada juga yang pindah ke blok lain karena takut.

Loly, yang sudah satu tahun tinggal di apartemen tersebut mengaku mengenal Ryan. "Ya, hanya sebatas kenal saja, karena sering bertemu saat berenang juga main badminton yang berlokasi

Menurut sepengetahuan Loly, sebelum terjadi kasus tersebut Ryan orang yang pendiam dan ramah. Dari wajahnya terlihat orang baik-baik. "Dari wajahnya sih keliatan orang baik-baik. Tapi, siapa sangka Ryan itu sudah sering membunuh orang," ungkapnya.

Loly bercerita, Jika pulang sore hari sering berpapasan dengan Ryan saat di jalan (keluar/masuk dari apartemen), Ryan pasti sedang bersama teman laki-lakinya antara 2 sampai 3 orang. Tapi saya tidak menyangka kalu Ryan itu gay.

Sementara itu, rencana rekonstruksi atau reka ulang kasus mutilasi dengan korban Heri Santoso (43) di apartemen tersebut tidak jadi digelar Polda Metro Jaya. Puluhan wartawan baik cetak maupun elektronik sudah berada di TKP sejak Kamis pagi.

Wakil building manager Apartemen Margonda Residence, Adelina mengatakan pihak apertemen belum mendapat konfirmasi dari Polda Metro terkait rencana rekonstruksi pelaku pembunuh berantai Ryan. "Kami tidak bisa memberikan keterangan apa-apa mengenai adanya rekonstruksi atau tidak," ujarnya kepada wartawan.

Sementara itu, Kriminologi Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala, menanggapi kasus Ryan menyarankan agar tersangka (Ryan) sebaiknya diberikan istirahat untuk mengembalikan kondisi fisik dan mentalnya.

Upaya istirahat itu untuk mengembalikan kondisi fisik dan mentalnya. "Selama ini dia selalu diberondong sejumlah pertanyaan oleh penyidik di Polda Jatim dan Polda Metro Jaya. Belum lagi harus menjalani perjalanan Jakarta-Jombang untuk keperluan penyidikan. Jika dalam kondisi lelah fisik dan mental, maka akan mempengaruhi proses penyidikan. Bisa saja Ryan tidak konsisten dalam menjawab pertanyaan, sehingga jawabannya jadi tidak akurat," kata Adrianus.

Terkait dengan status Ryan yang ditangani dua polda yakni, Polda Jatim dan Polda Metro Jaya, Adrianus mengatakan, penahanan seluruhnya dilakukan Polda Metro Jaya. Untuk 10 kasus pembunuhan di Jombang ditangani Polda Jatim. "Untuk pemeriksaan kejiwaan ada di Jakarta," ujarnya.

Mengenai penggunaan alat uji kebohongan atau lie detector untuk memeriksa uji kebohongan Ryan, menurut Adrianus, penerapan alat tersebut harus memperhitungkan hasil dengan melihat sisi kelemahan. Seperti yang diperiksa sedang sakit atau tidak, Ryan sendiri memiliki psikopatoligis, sehingga dia tidak mudah merasa bersalah.

harian terbit
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...