Mafia Pedagang ABG Desa Yang Masih Perawan !

Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 40 cewek ABG (Anak Baru Gede) dimerdekakan polisi dari sekapan jaringan mafia penjual perawan. Markas penampungan mereka di Hotel dan SPA Comport Jalan Prof. Dr. Latumeten, Jelambar, diobrak-abrik Reserse Polres Jakarta Barat.

Terbongkarnya sindikat penjual gadis di bawah umur itu berkat informasi orang tua salah seorang cewek ABG yang disekap di penampungan tersebut. “ Ketika saya mau mengambil anak, saya diharuskan membayar uang jaminan Rp 50 juta. Saya orang miskin, darimana mendapat uang sebanyak itu, “ kata petugas menirukan keluhan orang tua korban.

Tiga hari setelah informasi ini diterima, satu tim petugas Resmob dan RPK (Ruang Pelayanan Khusus) dipimpin AKP Sri Lestari, bergerak ke sasaran. Sebuah ruko berlantai tiga yang tidak jauh dari Hotel dan SPA Comport, digerebek.

Di kamar yang kumuh itu, petugas menemukan pemandangan yang menyayat hati. Puluhan cewek ABG yang berusia 13 hingga 16 tahun itu dalam kondisi mengenaskan. Wajah mereka pucat pasi. Melihat petugas datang, gadis di bawah umur yang jiwanya berhasil dimerdekakan, sontak kaget. Banyak yang menangis mengucapkan rasa syukur. Bahkan ada yang sujud memeluk kaki petugas. “ Seorang cewek mendadak pinsan karena tidak menyangka diselamatkan, “ kata petugas.

Disaksikan puluhan warga, cewek yang dipaksa jadi pelacur ini diangkut ke mobil. Penggerebakan tidak berhenti di ruko itu. Petugas bergerak ke Hotel dan SPA Comport. Di lokasi ini, ditemukan lagi belasan cewek ABG. Bersama 7 orang karyawan, yang terdiri dari kasir dan centeng, 40 gadis korban perdagangan manusia ini dibawa ke Polres Jakarta Barat.

Kapolres Jakarta Barat, Kombes Dr Iza Fadri mengatakan, sejauh ini pihaknya masih mememeriksa para cewek dan karyawan. “ Sampai sekarang belum ada tersangka. Kami masih mendalami pemeriksaan. Siapa pemilik dan germo di tempat tersebut, juga belum diketahui,” ujar Iza Fadri .

LAYANI TAMU
Keterangan yang didapat Pos Kota, puluhan cewek ABG itu datang dari keluarga miskin. Mereka dibujuk kaki tangan mafia penjual perawan dari desa di Indramayu, Purwakarta, Sukabumi, Subang, dan Cirebon. Kepada orang tua korban, sindikat itu menjanjikan pekerjaan di rumah makan dengan gaji menggiurkan.

Terbayang akan bebas dari himpitan kemiskinan, para orang tua korban tentu saja melerakan anaknya dibawa ke Jakarta. Namun, janji tinggal janji. Mereka bukannya kerja di rumah makan, tapi dijebloskan dalam lingkungan bisnis anak perawan.

Di Hotel dan SPA Comport itu, puluhan ABG dilatih memijat dan cara melayani tamu lelaki hidung belang. Hampir tiap hari mereka dipaksa germo melayani tamu. Jika berontak, mereka diancam centeng yang bertugas mengawasi gerak-gerik korban. Untuk keluar ruko, juga sulit. Pasalnya, kaki tangan germo terus mengawasi.

“Jika ada tamu yang memboking keluar kota, diharuskan membayar uang jaminan Rp 10 juta, “ kata Nani, yang mengaku pernah diboking tamunya.

Penyiksaan bathin yang dialami para gadis desa itu tidak hanya dipaksa melayani tamu. Nani menambahkan, ketika ia pertama kaki datang dan diminta melayani tamu yang dipijat di spa, ia sempat meronta. Namun, tamu itu berhasil memperkosanya. “ Saya bersyukur Mas bisa dibebaskan dari penampungan ini. Saya pengen cepat pulang kampung merayakan hari kemerdekaan, “ ujar Nani.

Menyinggung adanya bisnis pelacuran di hotel tersebut, kapolres menambahkan, penyelenggara tempat tersebut dapat dikenakan UU Trafiking No. 23 Tahun 2003 dengan ancaman hukuman tiga tahun atau maksimal 15 tahun. Dijelaskan kapolres, kegiatan di panti pijat plus itu masih terus didalami, dan pihaknya masih mengejar pemilik atau pengelolanya. “Apakah di tempat itu ada istilah jual perawan atau tidak masih dalam penyelidikan,” kata kapolres, didampingi Kasat Reskrim Kompol Suyudi Ario Seto.

3 TAHUN BEROPERASI
Hotel dan SPA Comport yang telah beroperasi lebih dari tiga tahun itu memang sejak awal mempekerjakan gadis di bawah umur. Setiap akhir pekan, banyak kaki tangan pemilik usaha itu membawa gadis-gadis ABG untuk dipekerjakan sebagai pemijat plus.

“Tidak tahunya saya terperangkap, diajarin mijit. Saya kira mijitan perempuan. Tapi ternyata mijit lelaki genit, “ kata Yanti. Gadis berusia 15 tahun ini mengaku asal Purwakarta. Ia mengaku, sekali mijat dibayar Rp 180 ribu. Ini baru mijat. Kalau tamu ingin bercinta lebih jauh, harus bayar Rp 400 ribu.

Menurut Nani, di tempat penampungan berlantai tiga, mereka diberi pelatihan memijat selama satu sampai dua bulan. ”Untuk komunikasi dengan orangtua saja susah. Kita diawasi dan dilarang keluar. Hampir sebagian besar kegadisan teman saya direnggut di sini ,” ucap Mery , 17, teman Nani yang mengaku dirinya sampai sekarang terpaksa melayani hidung belang karena sudah terlanjur putus dengan pacarnya di kampung.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris