Final Liga Champions dan Orang-orang Bodoh di Sepakbola

Seperti yang sudah tertulis sebelumnya, bahwa MU memiliki keberuntungan. Lagi pula mana mungkin “Grant” Dwipangga mampu mengalahkan “Alex” Kamandanu. Karena kelasnya berbeda jauh, kelas Grant hanyalah pelatih berkelas “nyaris”, nyaris juara liga, nyaris juara Champions.

Hanya orang-orang yang mempunyai akal dan kedewasaan mampu meraih gelar Liga Champions. Dua musim terakhir, Wenger dan Abramovich, dua orang yang sangat berambisi merasakan gelar UCL, harus gigit jari. Karena keduanya bisa dibilang tolol kalau tidak bodoh. Tidak mau berkaca pada pengalaman orang lain.

Arsene Wenger seharusnya berkaca kepada Macello Lipi yang bisa masuk 4 kali Final, tapi hanya berhasil menyabet 1 piala. Juventus dibawah Lipi sama persis dengan Arsenal dibawah Wenger dalam hal jual beli pemain. Merekrut pemain muda, untuk kemudian dijual ketika sudah matang.

Cristian Vieri, Filippo Inzaghi, dan Ravanelli adalah diantara pemain matang yang dijual Lipi untuk menambah kas sama dan hanya diganti pemain muda macam Legrotaglie, Igor Tudor dll. Henry, Flamini, Pires, Viera yang dijual Wenger untuk menambah kas juga.

Selain Wenger, ada yang lebih bodoh yaitu Roman Abramovich. Pria kaya ini sangat goblok, seharusnya dia berkaca pada pengalaman Moratti selama mengumbar uang antara musim 1998-2005. Selain uang dia buang-buang, pelatih dan pemain juga silih berganti ditendang. Hasilnya adalah nol putul, gagal total di Liga Champions dan Serie-A.

Beruntung sekarang Moratti sudah insyaf, dan mencoba membangun klub seperti MU dengan melamakan Mancini sebagai pelatih dengan harapan bisa seberuntung Sir Alex. Kekayaan Abramovich mungkin tak akan ada habisnya, tapi sayang dong kalau masih muda tiba-tiba terkena serangan jantung ketika klubnya terus-terusan kalah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris