TKW Indonesia Seharga 5 Riyal

Budaya kerja di Qatar emang aneh, kalau gak boleh dibilang malas. Jam kerja resmi kantor Kepolisian di pagi hari adalah jam 6 sampai jam 1 siang. Tapi jangan dibayangkan begitu sampai kantor langsung ke posnya masing-masing.

Sudah menjadi tradisi bahwa di pagi hari duduk dulu diruangan pertemuan, ngobrol dan minum teh susu. Tradisi ini akan selesai pukul 7 pagi atau lebih, terutama bila ada pertandingan sepak bola malamnya.

Setelah pukul 8, kantor akan berfungsi bekerja sebagaimana mestinya. Tapi cuma sampai jam 9 doang, karena sarapan pagi sudah siap menanti untuk disantap sampai jam 10.00. Nah baru pukul 11 sampai 11.45 kantor akan berfungsi lagi. Setelah itu kantor akan tutup lagi dengan alasan untuk sholat dzuhur.

Eits!, anda jangan sekali-kali minta untuk dilayani setelah Sholat Dzuhur selesai. Kecuali bila memang anda kenal betul dengan orang yang anda tuju, bila tidak?. Siap-siap aja, dibentak “gak sopan lah”, gak tahu waktulah, dll.

Biasanya jam segini adalah kesempatan lagi untuk ngobrol, memanfaatkan telpon kantor untuk menghemat pulsa handphone, membaca koran dll. Pokoknya santai, karena capek kerja gitu.

I hate Thursday, Kamis adalah hari terakhir kerja karena Jumat dan Sabtu adalah libur. Nah, di hari kamis inilah obrolan setelah jam 12 siang menjadi hal paling menyebalkan bagi saya, sebagai satu-satunya orang Indonesia di kantor.

Biasanya yang akan dibahas adalah kasus perselingkuhan terbaru TKW yang tertangkap, baik dengan orang Indonesia sendiri atau bangsa lain. Kemudian ujung-ujungnya akan bilang,

“تبغى أندونسية؟ 5 ريال بس”
(Mo perempuan Indonesia?, 5 riyal doang)
atau
Halah, masak hari kamis semahal itu?”
atau
Lha itu pembantunya si Fulan, bisa gratisan kalau hari kamis?”
atau
Kalau kamis mah, beli 1 gratis 1
atau
Udah tanya aja itu si I***, berapa?”
bla…bla…bla..bla…bla…bla…bla… lah pokoknya

Pahit emang seh di hati, tapi mo gimana lagi. Fakta berbicara, bahwa jumlah kasus perzinahan TKW asal Indonesia kalau di rata-rata lebih banyak daripada pembantu asal Philipina. Padahal jumlah pembantu asal Philipina lebih banyak di Qatar.

Biasanya kemudian saya akan dihakimi begini
“Kalau perempuan Philipin gampangan itu wajar, karena mereka bukan muslimah. Lha ini, pembantu Indonesia, muslimah dan berjilbab. Pas diinterogasi, ngaku sambil malu-malu kucing”

Lebih memalukan lagi, para TKW yang selingkuh itu kebanyakan baru bertemu sekali dua kali dengan si orang Mesir. Maaf saya menyebut Mesir karena memang telah terbukti sebagai pelaku terbanyak perselingkuhan dan perkosaan terhadap TKW.

Kalau sarapan pagi, karena saya memang doyan makan pedas, biasanya muncul komentar gini
“Pantes aja perempuan Indonesia panas, lha wong makanya suka yang pedas-pedas”

Sakit……..apalagi ketika ada kasus, dan saya mencoba menghubungi KBRI untuk konsultasi tentang sebuah kasus. Bila memang hari baik biasanya akan disambut ramah, tapi bila lagi sial.
“Ya mas gampang, nanti saya sampaikan ke yang berwenang, karena itu bukan urusan saya”

Semoga sampai masa tugasku yang akan berakhir 15 Juni nanti, tidak akan ada lagi telpon tengah malam pria misterius macam ini
“Maaf pak, saya cuma mo minta tolong, sebenarnya saya malu untuk ngomong, mmmmm, anu pak, kawan saya tertangkap polisi, pas lagi gituan”

Atau yang lebih seram lagi, wanita malam
“Pak, nama saya *****, saya mo konsultasi pak, tolong saya pak, saya hamil 7 bulan, saya udah minum banyak ramuan tapi tetap masih benjol

Semiskin-miskinya Bangladesh, dan meskipun sebutan “banggali” biasa dipake untuk manggil atau nyebut orang yang bodoh, tolol dan goblok. Mereka masih tetap punya sesuatu yang dibanggakan, karena dengan berani menyetop menjual kaum ibu. yah setidaknya mereka masih punya muka hanya untuk sekedar berucap
“eh, kemaren ada lho orang Banggali tanam saham ke perempuan Indonesia”
dan si India pun nyletuk
“Payah Indonesia neh, masak sama Banggali mau!!”

Dengan bangga saya akan jawab “Setidaknya Indonesia pernah jadi tuan rumah piala Asia…wek” ty.re

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris