Demi Rp. 4 Juta, Relakan Anak Terpanggang

Sungguh tragis memang, tapi itulah yang menjadi fenomena di negara ini akhir-akhir ini. Penjualan anak masih marak terjadi. Apakah karena “membuat” anak itu mudah..!? Entahlah, tapi materi adalah alasan utama mereka pada umumnya.
Berikut berita dari Kompas.com tentang judul diatas.

Kebakaran hebat terjadi di Jalan Siaga Raya RT 12/14, Pejaten Barat, Pasarminggu, Jakarta Selatan, membuat Sarifudin (4) tewas terpanggang. Sementara tujuh warga lainnya mengalami luka bakar. Dalam kebakaran itu, sejumlah lapak permukiman pemulung yang bangunannya semipermanen ludes terbakar.

Menurut Ratini (35), ibu Sarifudin, api diduga berasal dari rumah milik Abdul Wahab (50), tetangga sebelah rumahnya. Menurutnya, api tiba-tiba membesar, membuat panik seisi permukiman padat tersebut. ”Bapaknya sudah keluar bawain anak-anak, semua sudah keluar,” ujarnya sambil menitikkan air mata.

Saat terjadi kebakaran, Mamat (42), suami Ratini, masuk ke rumah untuk mengambil uang Rp 4 juta hasil penyewaan playstation. Tidak diduga-duga, ternyata Sarifudin masuk ke rumah mengikuti ayahnya. Mamat tidak menyadari anak keempatnya itu ikut masuk ke rumah.

Mamat mengalami luka bakar di punggungnya. Dia keluar rumah yang sudah dilalap api setelah mengambil uang Rp 4 juta. Namun, Sarifudin tidak pernah keluar dari rumah.

Roni (17), kakak Sarifudin, juga mencoba masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan sepeda motor miliknya. Namun, dia tidak melihat adiknya di dalam kobaran api. Roni juga menderita luka bakar di lengannya. Puluhan petugas pemadam kebakaran dan ratusan warga yang memadamkan api tidak menyadari ada orang terjebak di dalam rumah.

Sekitar tiga jam kemudian, ketika api dapat dijinakkan, petugas mendapati Sarifudin telah hangus menjadi arang di dalam rumahnya. Sedangkan adik korban, Mansyur (1), berhasil diselamatkan. Abdul Wahab membantah api berasal dari rumahnya. Menurutnya, api justru berasal dari rumah Mamat. ”Api tahu-tahu besar, saya langsung selametin anak saya,” ujar ayah empat anak itu.

Menurut Abdul Wahab, status tanah lokasi permukiman tersebut adalah milik Pemprov DKI. ”Saya terus terang saja bayar ke dekel (dewan kelurahan) setiap bulan Rp 200.000,” ujarnya.

Lokasi kebakaran berada persis di belakang kantor Kelurahan Pejaten Barat, dan telah didiami para pemulung selama puluhan tahun.

Sekitar pukul 14.00, jenazah Sarifudin dimakamkan di tempat pemakaman umum tidak jauh dari rumahnya setelah disalati di Musala Al Barkah. Masih dengan luka bakar di tubuhnya, Mamat tak kuasa menahan tangis ketika meletakkan jenazah anaknya di liang kubur. Selain kehilangan anak, Mamat juga mengalami kerugian lantaran 10 televisi dan 10 unit playstation miliknya yang ikut hangus.

Kobaran api juga melalap ratusan rumah di RW 01 dan 02 Kelurahan Krendang, Tambora, Jakarta Barat, Jumat (11/7). Api diduga berasal dari ledakan tabung elpiji isi tiga kilogram. Tercatat 68 lapak ludes terbakar, lapak-lapak itu dihuni 70 keluarga dengan jumlah warga 240 jiwa.

Sementara itu, sedikitnya 500 rumah di wilayah RW 01 dan 02, Kelurahan Krendang, Tambora, ludes dalam kebakaran yang terjadi . Kebakaran hebat yang melanda kawasan padat penduduk itu mengakibatkan ribuan jiwa harus mengungsi dan tinggal di tempat seadanya.
Kebakaran terjadi sejak pukul 15.30 dan baru padam sekitar pukul 20.00. Api diduga berasal dari sebuah tabung gas isi tiga kilogram yang meledak.

Imam, warga RT 06/02, luka-luka akibat terjatuh dari lantai dua rumahnya ketika hendak menyelamatkan istrinya yang terjebak di dalam rumah. Saat dia hendak menjemput istrinya, lantai dua rumahnya runtuh. Imam pun terjatuh dan pingsan. Tubuhnya mengalami luka bakar.

Sungguh tragis…

Renata/rw
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris