25 Murid Keracunan Air Isi Ulang

Usai meminum air isi ulang, sekitar 25 siswa SMP Islam Al Amal Surabaya keracunan dan harus dirawat di Rumah Sakit (RS) Al Irsyad, Kamis (3/4) sore. Mereka mengaku pusing, mual, kemudian muntah-muntah dan bahkan ada yang pingsan. Awalnya, pada pukul 07.30 WIB hari itu, sekitar 120 siswa SMP Islam Al Amal mulai kelas VII hingga IX, menggelar kegiatan luar ruang (outbound) di Kebun Bibit Bratang, Surabaya. Pukul 12.30 WIB, waktu istirahat tiba. Mereka diberi makan nasi kotak dan air minum dalam kemasan.

Setelah air kemasan habis, siswa yang ingin minum lagi, mengambil air di galon yang baru saja dibeli seorang guru dari depot air isi ulang. Namun usai minum, para siswa mengalami pusing, mual, muntah-muntah. Bahkan ada yang pingsan. Kejadian tersebut menimpa para siswa secara bertahap, mulai sekitar pukul 13.30 WIB.

“Satu per satu yang minum air galon tersebut, bilang kepalanya pusing dan mual. Ada yang pingsan. Sedangkan yang tidak minum dari galon, tidak apa-apa,” tutur Cicah Feristina, 13, siswa kelas VII saat ditemui di ruang perawatan RS Al Irsyad Jl KH Mas Mansyur, Surabaya.

Kepala Sekolah SMP Islam Al Amal, ustad Taufik membenarkan penuturan Cicah. Setelah melihat siswanya lemas, mengeluh pusing, mual dan muntah, Taufik dan para guru berusaha memberi pertolongan pertama dengan mengolesi minyak angin. Tapi ketika jumlah siswa yang jatuh semakin banyak, para guru dan pendamping segera menaikkan seluruh siswa ke mobil dan membawanya ke RS Al Irsyad.

“Dari Kebun Bibit sekitar pukul 14.00 WIB dan sampai rumah sakit pukul 14.45 WIB. Kami sengaja membawa ke sini, karena sudah ada kerjasama pemberian pengobatan untuk siswa-siswi kami. Juga, lokasi rumah sakit dekat dengan sekolah,” jelas ustad Taufik.
Sesampai di lobi RS Al Irsyad, banyak di antara siswa muntah-muntah lagi. Mereka pun mendapat perawatan di ruang Instalasi Rawat Darurat (IRD) medik. Tapi karena banyaknya siswa yang perlu penanganan, akhirnya ruang IRD Bedah dan lobi rumah sakit dijadikan tempat pemeriksaan. Beberapa bahkan diletakkan di lantai.

Diketahui, 25 siswa positif mengalami keracunan, dan 16 di antaranya diinfus. Sedangkan sisanya yang tak keracunan namun ikut merasa pusing dan mual, segera diberi obat dan diminta untuk minum air putih yang bersih sebanyak-banyaknya.

“Ini agar racun yang sudah masuk ke perut mereka bisa didorong oleh air dan keluar melalui lubang pencernaan,” jelas dr Iwah Prestiono, salah satu dokter yang memberi penanganan pada para siswa keracunan.

Menurut dr Irianto, dokter lain yang ikut menangani korban, dari gejala yang muncul, 25 siswa yang dirawat itu memang keracunan. Tapi apa penyebabnya, dr Irianto mengaku belum bisa mengungkapkan.
Diperoleh informasi, air galon isi ulang tersebut dibeli di depot air minum Tirta Adji di Jl Bratang Gede 3B/84. Disebutkan, air berasal dari sumber air di Trawas, Mojokerto.
Pembelinya adalah Taufiq, guru komputer SMP Islam Al Amal. Taufiq membeli air isi ulang itu sebanyak dua galon.

Kapolsekta Gubeng AKP Hartoyo membenarkan adanya kejadian tersebut. Namun, hingga kemarin malam, belum ada yang melaporkan kasus itu secara resmi.
“Tapi kami tetap menyidiknya dengan memeriksa beberapa orang saksi sambil menunggu hasil visum terhadap para korban dari RS,” kata Hartoyo.

Sementara itu, Direktur Lembaga Perlindungan Konsumen Surabaya (LPKS), Paidi Pawiro Rejo mengatakan hampir seluruh air dari depot isi ulang tak memenuhi standar mutu yang ditetapkan SK Menteri Kesehatan No. 907/2002 tentang Air Minum. Baik standar kimiawi maupun biologis.
Kesimpulan itu didasarkan pada hasil penelitian LPKS dengan sampel 60 depot air isi ulang di Surabaya. “Meski disebut bahan bakunya berasal dari mata air pegunungan yang jernih, itu masih diragukan kebenarannya,” kata Paidi.

Apalagi, pelayanan di depot isi ulang kerap dijumpai juga tidak memenuhi standar higienitas. Salah-satunya, pelayan tak memakai sarung tangan steril atau lampu sterilisasi yang sudah padam tapi dibiarkan.
Uji mutu air yang semestinya dilakukan sebulan sekali, kata Paidi, juga amat jarang dilakukan oleh pemilik depot. Dengan kondisi demikian, sangat mungkin terjadi air minum dari depot isi ulang tercemar dan menimbulkan keracunan.
Namun, karena harga air isi ulang lebih murah daripada air minum dalam kemasan, bisnis depot isi ulang tetap jalan. “Tinggal masyarakat sendiri yang harus hati-hati dalam memilih depot isi ulang,” imbuh dia.rie/k3/aru

Tips Memilih Depot Air Isi Ulang :
Perhatikan lokasi depot, di tempat bersih atau kumuh/berdebu
Perhatikan alat filter air, dalam kondisi bersih atau tidak
Lampu sterilasasi air nyala atau tidak
Perhatikan surat izin depot yang ditempel di dinding
Perhatikan hasil uji laboratoriumnya, sudah kadaluwarsa atau belum (uji laboratorium sebulan sekali)
Pilih depot yang petugasnya memakai sarung tangan sterilisasi
Perhatikan apakah tempat pencucian galon bersih atau tidak
Harga air standar atau mencurigakan (terlalu murah)
Jangan terpengaruh iklan yang terpasang di depot tentang asal air

Sumber Berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris