Gadis 10 Tahun Melahirkan Akibat Pernikahan Dini

Kabul - Wilayah utara Afghanistan terkenal dengan tanahnya yang tandus. Masyarakatnya miskin serta tak pernah lepas dari kelaparan. Kondisi itu memaksa para orangtua di sana untuk menikahkan putri-putri mereka di usia dini dengan imbalan sejumlah uang.

Farida, bukan nama sebenarnya, mendapat 40.000 Afghani (Rp 7,3 juta) setelah menikahkan anaknya yang baru berusia 13 tahun dengan saudara sepupu ayahnya. Gadis itu, sambil menyembunyikan mukanya di balik cadar warna biru, mengatakan dia tidak menyukai suaminya.

“Saya tak ingin menikah, itu keputusan orangtua. Saya bermimpi bisa menyelesaikan sekolah,” kata gadis kecil itu sambil terisak. “Tapi tak ada pilihan lain.”

Melihat anaknya tak senang, Farida menimpali bahwa itu memang menjadi jalan hidupnya. “Itu nasibnya,” jawab sang ibu singkat.

Fauzia Kofi, anggota parlemen independen di Badakhshan mengatakan ada peningkatan jumlah pengantin anak-anak di wilayah itu dalam dua tahun terakhir. Kofi menegaskan kemiskinan telah meningkatkan jumlah pengantin anak-anak itu.

“Menurut saya ini bukan pernikahan, tapi menjual anak-anak,” katanya. “Gadis sembilan atau 10 tahun bisa Anda bawa pergi dengan imbalan satu karung gandum dan dua ekor sapi.”
Badakhshan merupakan wilayah di utara Afghanistan. Untuk mencapainya diperlukan waktu semalam penuh menggunakan keledai dari kota besar terdekat, Faizabad.

Wakil gubernur Badakhshan Dr Mohammed Zarif melaporkan 60 orang tewas kedinginan dan kelaparan dalam lima bulan terakhir setelah wilayah itu terisolasi karena badai salju. Di pasar setempat, harga makanan juga naik dua kali dalam satu tahun terakhir.
Kofi melanjutkan, pernikahan di bawah umur hanya bisa diatasi dengan investasi yang bisa mengurangi kemiskinan.

Seorang bidan di desa Khordakhan, Hanufa Mah juga setuju. Dia mencoba memberitahu orangtua agar tidak menikahkan putri mereka dalam usia dini. Dia pernah membantu kelahiran ibu berusia 10 tahun. “Anak itu sangat kecil. Saya memeluknya hingga anaknya lahir,” ujar Ma.

Pejabat PBB menyebut jumlah perempuan Badakhshan yang meninggal setelah melahirkan jauh lebih tinggi dibandingkan di tempat lain. Ibu-ibu di bawah usia 15 tahun adalah yang paling berisiko.

Namun Menteri Keuangan Afghanistan Anwar al haw Ahadi tidak yakin daerah seperti Badakhshan bisa cepat keluar dari kemiskinan. “Akan butuh waktu lama. Yang kami lakukan sekarang adalah yang paling mendasar. Kini kami adalah negara paling miskin keempat atau kelima di dunia,” tegasnya.

Penderitaan para gadis Afghanistan di desa-desa terpencil sepertinya akan berlanjut, apalagi jika menipisnya cadangan makanan dunia terus berlanjut. Harapan mereka untuk menikmati pendidikan sepertinya akan sirna dan mereka harus kembali menghadapi kehamilan dini yang membahayakan jiwa. bbc/van
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris